Hutan Rusak atau Hujan Lebat di Balik Banjir Besar Kalimantan Barat?

Kerusakan lingkungan maupun bentang alam terjadi masif di beberapa titik tak jauh dari bantaran Sungai Kapuas dan Melawi di Kalimantan Barat. Kerusakan itu membuat daya dukung lingkungan drop sehingga diduga menjadi faktor pemicu banjir besar di banyak wilayah di Kalimantan Barat sebulan terakhir.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Ganip Warsito mengungkap itu dalam keterangannya, Selasa 16 November 2021. Dia dan timnya melakukan pemantauan udara kondisi Daerah Aliran Sungai Kapuas dan Melawi yang melintasi wilayah Provinsi Kalimantan Barat pada Selasa sepekan sebelumnya.

“Kalau kita melihat dan mengevaluasi itu, maka bencana hidrometeorologi sebenarnya bencana yang bisa kita cegah. Dengan apa? Dengan penggunaan ruang hidup yang benar, kemudian perilaku masyarakat kita yang memahami tentang penggunaan alam dan seisinya itu untuk kehidupannya,” ujar Ganip.

Seusai meresmikan Jalan Tol Serang-Panimbang Seksi 1 di Banten, Selasa, Presiden Joko Widodo berjanji akan mengembalikan daerah tangkapan hujan yang rusak itu mulai tahun depan. Dia menyebut rencana persemaian dan penghijauan kembali di daerah-daerah hulu sungai.

Diperkirakan sekitar 969 ribu hektare daerah aliran sungai di Kalimantan Barat rusak dan kritis, dan yang paling besar mengalaminya adalah DAS Sungai Kapuas. “Kita perbaiki,” kata Jokowi.

Dalam keterangannya, Hermas R. Mering, penggiat lingkungan di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, mengatakan pembukaan hutan telah terjadi sejak 1970-an melalui Hak pengusahaan Hutan (HPH) dan mendapat percepatan belakangan ini. Pada tahun lalu, misalnya, ada setidaknya dua Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu dalam Hutan atau IUPHHK-HA, pengganti HPH, baru diberikan di Kapuas Hulu.

Selain itu, sepanjang 2019 saja, berdasarkan data Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Barat, terdapat 29 izin lokasi baru perkebunan kelapa sawit. Sedangkan data Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Kapuas Hulu menyebut setidaknya 18 perusahaan sawit aktif dalam pengelolaan kebunnya yang rata-rata berada di beberapa kecamatan yang hingga kini terendam banjir.

Menurut Hermas, banjir yang terjadi tahun ini adalah fenomena atau peristiwa yang tidak biasa. Sadar atau tidak, dia mengatakan, ada faktor lain penyebab terjadinya banjir selain intensitas hujan yang tinggi. Dia menghitung, di Kapuas Hulu, banjir sudah sudah empat kali terjadi sepanjang dua tahun terakhir—tiga di antaranya adalah banjir besar sepanjang 2021 ini.

“Intensitas pembukaan hutan semakin besar, baik secara ilegal maupun legal, baik oleh perusahaan kayu maupun perusahaan lain yang berbasis penggunaan lahan seperti perkebunan sawit dan pertambangan,” ucapnya.

Berdasarkan peta analisis sifat hujan dasarian I BMKG pada November 2021, sebagian besar wilayah Provinsi di Kalimantan memang terukur masih berada pada ambang batas normal, dengan presentase 85-115 persen. Dikatakan di atas ambang batas normal apabila persentase berada di atas angka 115 persen.

Data curah hujan itu disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, melalui siaran pers, Selasa. Di dalamnya, dia juga mengungkap kalau banjir telah berdampak kepada lebih dari 10 ribu rumah atau keluarga di Kabupaten Sanggau. “Sudah lebih dari tiga pekan terakhir wilayah Sanggau terendam banjir, terhitung sejak Senin 25 Oktober lalu,” katanya.

Banjir besar telah mengepung banyak wilayah di Kalimantan Barat selama sebulan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.